"Sky Village" Kampung Anti Tsunami ala Jepang

Senin, 30 April 2012
Sako Architects Arsitektur Sky Village

Gusdi20 - Jepang selalu belajar. Gempa bermagnitud 9 yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2012 lalu menunjukkan bahwa pertahanan yang telah diupayakan seperti dinding laut ternyata tak cukup. Rancangan baru pun diusulkan.

Keiichiro Sako dari Sako Architechts di Tokyo merancang sebuah kawasan tepi pantai yang anti tsunami. Kawasan ini bisa dikatakan sebuah pulau buatan yang letaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dinamai "Sky Village" atau Kampung Langit.

Rencananya, rancangan kawasan tersebut akan diwujudkan di kawasan Tohoku, timur laut Jepang, yang tahun 2011 lalu dihancurkan gempa. Meskipun terdengar seperti mimpi, Sako yakin rancangannya bisa diwujudkan.

"Saya ingin menawarkan cara agar orang dapat tetap hidup dan bekerja dengan aman serta tetap nyaman tinggal dataran rendah, ini alasannya saya memulai proyek ini," kata Sako.

Akibat gempa tahun lalu, pemerintah Jepang berencana untuk mengajak warga meninggalkan desa-desa yang diterjang tsunami serta merelokasi warga ke area yang lebih tinggi, lebih jauh dari pantai.Menurut Sako, rencana pemerintah Jepang kurang tepat. Rencana pembangunan Sky Village lebih tepat karena tidak mengharuskan warga meninggalkan daerah asal dan cara hidup semula.

"Bagaimana anda hidup aman di dataran rendah? Pilihannya hanya membangun bangunan buatan yang tinggi," ungkap Sako seperti dikutip website China.org.cn, Jumat (13/2/2012) lalu.

"Sekarang, jika anda membuatnya, dan berbentuk kotak, mumngkin akan langsung dihantam oleh tsunami. Jadi saya pikir yang harus dilakukan adalah membangun struktur bentuk lingkaran dengan fondasi baja," tambah Sako.

Rancangan berbentuk lingkaran atau oval sangat penting. Jika bangunan berbentuk kotak, maka air dari gelombang tsunami akan langsung menghantam. Jika bangunan berbentuk oval, maka air akan mengalir ke samping.

Sako merancang bangunan sebaik mungkin sehingga anti-tsunami. Saat tsunami, gerbang bangunan tertutup sehingga air tak bisa masuk. Listrik disuplai dengan energi terbarukan agar tetap bisa beroperasi. Ada pula cadangan baterai lithium.

Sky Village memiliki kluster-kluster. Terdapat kluster untuk sekolah, hunian, dan perikanan. Ada pula tempat yang untuk membantu aktivitas perikanan sehingga mendukung aktivitas warga sebagai nelayan.

Dana pembangunan Sky Village tentunya sangat besar. Yasuaki Onoda dari Departemen Arsitektur dan Ilmu Bangunan di Tohoku University memperkirakan bahwa biayanya bisa mencapai triliunan rupiah per 'pulau'.

Untuk mengatasi tantangan biaya, Sako mengatakan bahwa akan mendaur ulang material bangunan yang dihancurkan tsunami tahun lalu. Ia percaya, bangunan tak cuma akan membantu para penduduk, tapi juga menjadi tujuan wisata.


sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/04/13/16534552/Sky.Village.Kampung.Anti.Tsunami.ala.Jepang

7 Keluhan Pelayan Hotel yang Harus Kita Ketahui

Kamis, 19 April 2012

 
Saat menginap atau liburan di hotel, ada beberapa etika sebagai tamu yang harus Anda ikuti. Salah satunya dengan berlaku sopan kepada pelayan hotel. Mungkin sebagian orang menganggap pekerjaan mereka tidak terlalu penting. Tapi, pelayan hotel memikul tugas yang cukup berat. Memberi sedikit apresiasi dengan berlaku sopan, bisa menjadi penghargaan terbesar untuk mereka. Pelayan hotel tidak diperbolehkan mengeluh kepada tamu hotel, dan diwajibkan selalu berlaku sopan. Berikut 7 Keluhan Pelayan Hotel yang Harus Kita Ketahui, yaitu :

1. Kami Tidak Mau Membangunkan Anda Dengan Mengetuk Pintu Kamar di Pagi Hari, Tapi Kami Harus Melakukannya

Rata-rata, seorang pelayan hotel harus membersihkan 13 sampai 15 kamar per harinya, bahkan bisa lebih. Mereka harus selesai membersihkan semuanya dalam waktu empat jam. Jadi meskipun Anda telah berpesan kepada resepsionis hotel agar tidak ada yang mengganggu saat tidur, pelayan harus tetap mengetuk pintu untuk masuk dan membersihkan kamar.

2. Pekerjaan Kami Paling Berbahaya di Hotel Ini

Menurut Unite Here, serikat pekerja di Amerika dan Kanda, pelayan hotel berisiko mengalami kecelakaan 50 persen lebih tinggi dibandingkan staf hotel lainnya. Sebuah survey yang dilakukan kepada lebih dari 600 pelayan hotel di Amerika dan Kanada mengungkap bahwa 91 persen-nya menderita sakit karena bekerja. "Yang paling buruk adalah mengangkat tempat tidur. Membuat punggung Saya sangat sakit. Rekan kerja saya yang lain setiap hari mengeluh sakit pada kaki, lutut dan tangan," ujar Lisa, salah satu pelayan hotel di Long Beach, California, yang membersihkan 22 sampai 30 kamar sehari. Pekerjaan mereka sudah cukup berat setiap hari, dan mereka pasti lebih mengharapkan senyum ramah dari pengunjung hotel dibandingkan wajah angkuh dan tak bersahabat.

3. Kami Sangat Senang Jika Anda Memberikan Tip

Memberikan tip merupakan sebuah apresiasi pengunjung pada pelayan hotel. Jika Anda ingin memberi tip, jangan diletakkan terbuka di atas meja tanpa catatan apapun. Pelayan hotel tak akan berani mengambilnya karena mereka tidak yakin apakah itu uang tip untuknya atau uang pengujung yang tertinggal. "Selipkan uang tip di bawah bantal, itu biasanya tanda bahwa uang itu diberikan untuk pelayan," tambah Lisa. Namun kebiasaan setiap hotel di tiap negara bisa saja berbeda, jadi akan lebih baik jika Anda menyertakan tip bersama catatan.

4. Kami Mendengar Dan Melihat Semuanya

Pelayan hotel memang diwajibkan ramah kepada setiap tamu hotel yang datang menginap, tapi mereka bisa mengamati saat mood tamu tidak baik atau tindakan kasar dari tamu. Seburuk dan sekasar apapun perlakuan tamu, pelayan hotel harus bersabar sebisa mungkin. "Saat kami mengetuk pintu dan tamu tersebut tidak mau kami masuk, kadang mereka mengumpat dan memaki. Saya coba tidak mengambilnya secara personal, tapi itu (mengumpat) bukan sesuatu yang bisa kami tahan terus sepanjang hari," ungkap salah satu pelayan hotel yang tak mau disebut namanya. Saat menginap di hotel, cobalah untuk berlaku sopan kepada pelayan hotel. Bagaimanapun juga, mereka adalah manusia yang memiliki hati. Mereka tidak perlu perlakuan buruk dari Anda setelah lelah bekerja seharian.

5. Kami Tidak Ingin Mempersulit Anda Mencari Barang-barang Anda
Jika Anda tipe orang yang suka membiarkan barang kepunyaan Anda menumpuk di lantai, jangan kaget jika setelah kembali ke kamar Anda akan menemui barang-barang Anda tertata rapi di lemari atau laci. Sudah menjadi prosedur tetap bagi pelayan hotel untuk merapikan baju-baju yang tercecer di lantai. Namun ada baiknya jika Anda meringankan pekerjaannya dengan menaruh barang pribadi Anda pada tempatnya. Ingat, hotel adalah tempat umum, bukan rumah pribadi.

6. Sudah Tugas Kami Untuk Membersihkan Kamar Anda, Tapi Kadang Kekacauan Yang Anda Buat di Luar Tugas Kami
Ada tamu hotel yang suka kerapihan, tapi ada juga yang tidak peduli dengan kebersihan. Terkadang ada tamu yang membiarkan botol minuman atau bungkus makanan berserakan. Belum lagi minuman soda yang meninggalkan noda karena tumpah, juga sisa makanan berserakan di lantai. Membersihkan kamar memang tugas mereka, tapi merapikan sisa pesta yang berserakan, itu di luar tugas mereka. Jika Anda mengadakan pesta atau berkumpul di kamar hotel, sebaiknya bereskan sendiri sisa atau sampah makanan/minuman agar pekerjaan pelayan hotel tidak bertambah berat.

7. Jika Anda Akan Keluar Hotel Hari Itu, Pelayan Hotel Harus Membersihkannya Lebih Awal Untuk Ditempati Tamu Baru

Mereka juga harus tahu apakah Anda akan pergi sesuai jadwal atau menambah hari menginap," jelas Lara Weiss, managing director salah satu hotel mewah. Mungkin Anda akan merasa terganggu dengan pelayan yang mengetuk dan masuk, tapi coba bersabar dan mengerti bahwa mereka hanya melakukan tugasnya