Perlahan Manusia Terkikis Oleh Robot

Rabu, 06 Juni 2012


Kemajuan teknologi robot dapat menggantikan tentara manusia di medan perang. Kemungkinan ini tentu bukan isapan jempol semata. Seperti film Terminator, robot-robot mendominasi medan perang dan lebih efektif dalam menumpas musuh.

Apa yang terjadi di film Terminator ternyata dapat terelasisasi di medan pertempuran saat ini. Itu artinya, baku tembak di pertempuran bisa digantikan oleh robot, seiring meningkatnya protes banyaknya tentara manusia yang tewas di medan laga.

Diperkirakan, perang di masa depan akan lebih banyak dimainkan oleh robot-robot berteknologi tinggi. Tujuan utamanya untuk meminimalisir jumlah korban prajurit yang bertempur. "Kini, sekitar 8.000 robot telah diterjunkan di medan perang. Mereka dipercaya akan membawa misi revolusi militer. Sebagian besar robot kini diterjunkan ke darat dengan tugas non-tempur seperti penjinakkan bom dan pesawat tanpa awak," paparnya.

Quinn mengutarakan, di masa depan sangat menjanjikan penggunaan lebih banyak tentara robot di medan tempur, termasuk kendaraan perang tanpa awak manusia. "Semakin dekat, Anda akan ditembak. Inilah kelebihan robot yang mampu dikendalikan dari jarak jauh," paparnya, seperti dikutip dari BBC.
Dia menegaskan, robot-robot bersenjata itu hanya dioperasikan dibawah kontrol tentara manusia. Alasannya, hingga kini, kata dia, robot tidak dapat beroperasi sendiri. Namun, menurut Peter Singer, penulis buku Wired for War, kecepatan perang modern akan membuat kontrol manusia semakin sulit.
Seperti halnya sistem pertahanan artileri otomatis yang diterapkan di Afghanistan. "Sistem tersebut akan menembak jika ditembak. Kita tidak dapat menghentikannya, kita hanya dapat mengaktifkannya," papar Singer.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana jika robot tersebut menyerang target yang tidak seharusnya dan melanggar hukum perang? Akademisi Amerika Serikat Patrick Lin yang bekerja untuk membuat etika robot untuk militer, mengungkapkan, robot dapat diprogram untuk mengikuti standar tertentu.

Meski demikian, dia tetap mempertanyakan, "Benarkah kita dapat melakukan itu dengan komputer kita?" ujarnya. Saat ini, Amerika Serikat (AS) telah menggunakan robot-robot canggih di pertempuran, baik itu di Irak maupun di Afghanistan.

Pentagon telah membuat kendaraan tanpa pengemudi yang disebut EATR. Robot mobil itu dapat mengisi ulang bahan bakar sendiri dengan materi organik ketika berjalan jarak jauh. Penemu EATR, Dr Robert Finkelstein dari Robotic Technology Inc, mengungkapkan, penemuannya membutuhkan bahan-bahan organik sebagai bahan bakar dan lebih vegetarian dibandingkan manusia.

"Robot hanya dapat melakukan apa yang diprogramkan, dan dia memiliki fitur-fitur tertentu," tambahnya. Menurut Finkelstein, robot mampu menghindari kesalahan yang dilakukan prajurit manusia. Dia menuturkan, robot diprogram dengan secukupnya dan dibuat agar sedikit melakukan kesalahan seperti membunuh warga tak bersalah, dan kelompok bukan musuh.

"Robot tidak memiliki ikatan emosional, mereka tidak memiliki rasa takut, mereka dapat bertindak dalam beberapa situasi," ungkapnya. Namun, pihak yang lebih skeptis seperti Profesor Noel Sharkey, pendiri Komite Internasional untuk Kontrol Robot Bersenjata, mengatakan manusia lebih akuntabel sedangkan mesin tidak.

"Anda dapat melatih robot seperti apa pun yang Anda inginkan, dan menjadikannya mematuhi semua aturan di dunia. Tapi, jika apa yang diprogramkan tidak benar, jadi ya begitulah," paparnya.

Dengan revolusi militer, Christopher Coker dari the London School of Economics, menjelaskan, komputer tidak mampu menstimulasikan "etos pahlawan", pemikiran, dan etika tentara profesional. Selama ini, revolusi militer robot telah diterapkan dalam pesawat udara seperti pesawat tanpa awak milik AS di Afghanistan.

Sedangkan penerapan robot di darat, masih terbatas. Sementara itu, Yoshiyuki Sankai, pakar robot ternama dari Jepang, menciptakan HAL (hybrid assistive limb), yaitu pakaian robotik yang telah dikembangkan untuk membantu gerakan dan menambah tenaga orang yang memakainya.

Sankai menerima undangan resmi dari Departemen Pertahanan Jepang untuk mempresentasikan "pakaian robot" yang dibuatnya. Sedanngkan Brian Hart yang kehilangan putranya, John Hart, yang gugur dalam perang Irak pada Oktober 2003, membuat Brian sukses menciptakan robot pendeteksi bom.

Dia pun membuat sebuah kendaraan robot yang dirancang khusus untuk menjinakkan bom. Robot yang dinamakan LandShark (Hiu Darat) itu dilengkapi sejumlah sensor canggih yang dapat mendeteksi dan menonaktifkan bom

Seperti yang kita tahu bahwa dewasa ini memang Kemajuan kecerdasaan buatan meningkat dengan sangat mengagumkan. Dimulai dari lahirnya Deep Blue yang diciptakan oleh IBM, yang mampu mengalahkan pecatur legendaris Kaskarov. Serta proyek ambisius negara Jepang untuk menciptakan komputer generasi ke 5 yang berbasis Artificial Intellegence.

Tapi tahukah kamu bahwa pengembangan - pengembangan robot semacam ini telah ada sejak zaman dahulu, Ternyata bentuk robot atau makhluk yang seperti robot telah ada sebelum jaman masehi. Kita mungkin telah mengenal beberapa legenda masyarakat eropa tentang Golem (Makhluk seperti manusia yang terbentuk dari batu atau tanah liat) atau para pembantu Hephaestus yang terbuat dari mesin – mesin dari Yunani. Tapi tidak hanya berupa imajinasi saja, Ctesibius dari Alexandria (250 SM) telah berhasil membuat organ (alat musik) otomatis.

Lalu sarjawan muslim, Al – Jazari (1136 – 1206 ) yang membuat sebuah rancangan tentang robot yang dapat diprogram. Robot menurut etimologinya berarti pekerja, yang bekerja keras, atau budak. Robot dapat diartikan sebagai mechanical creature (makhluk yang berbentuk seperti mesin). Keinginan manusia untuk menciptakan sebuah makhluk cerdas yang dapat bekerja tanpa protes dan patuh telah dilakukan sejak jaman renessaince hingga kini. Mulai dari sekedar rancangan dan impian lalu kini telah menjadi kenyataan

Demikian pula kemajuan embedded system khususnya dibidang robotika. Kelahiran P3 yang menjadi cikal bakal ASIMO sebagai robot humanoid yang telah diterapkan untuk membantu manusia, telah menunjukkan betapa dahsyatnya perkembangan teknologi embedded khususnya bidang robotika.
Perkembangan robot saat ini ternyata dipandang positif oleh departemen militer Amerika Serikat. Dimulai dari proyek pesawat tanpa awak yang digunakan pada perang teluk II dan hingga robot yang mampu mendeteksi arah tembakan sniper. Pengembangan robot yang mampu menggantikan tentara manusia di medan perang tidak mustahil telah dilakukan oleh negara – negara maju. Makalah ini berfokus kepada kehadiran robot militer di masa depan, dimana di satu pihak kehadiran robot ini oleh pengembangnya dipandang dapat menurunkan angka kematian prajurit. Di pihak yang lain, keberadaannya hanya memperburuk keadaan saat ini.

Kemajuan perangkat keras khususnya mikroprosessor dan mikrokontroller turut serta mengambil bagian dalam teknologi robot. Mikroprosessor yang menjadi bagian terpenting dalam teknologi robot, mengakibatkan robot tidak lagi hanya dapat berjalan, tetapi dapat tersenyum, tertawa, sedih dengan melihat keadaan sekitar seperti Kismet robot buatan Dr Cynthia. Penemuan ini lalu mengakibatkan pembuatan robot tidak hanya berkonsentrasi pada gerak, jumlah kaki dan tugas kerja saja. Keinginan untuk dapat membuat robot yang memiliki perasaan seperti layaknya manusia dan kecerdasaan seperti manusia pun mulai dilakukan. Mimpi ini mungkin telah diwakili oleh film – film animasi Jepang seperti Astro Boy atau Doraemon.
Jepang merupakan negara yang menghabiskan dana terbesar dalam riset dan proyek penelitian robot. Hal ini dapat dilihat dari implementasi robot yang dilakukan oleh negara ini. Mulai dari robot pelayan yang menyajikan makanan hingga robot yang mampu menggantikan seorang presenter televisi.

Sisi ambisius manusia dalam pengembangan robot ternyata tidak hanya berhenti pada bidang pelayanan umum. Keinginan membuat sebuah alat perang yang tidak mungkin menolak perintah dan tidak ragu dalam mengerjakan misi tentunya menjadi impian para petinggi militer di negara manapun juga.
Prajurit manusia dianggap memiliki banyak sekali kelemahan, seperti moral yang kadang naik dan turun. Keterlibatan perasaan saat menjalankan misi dan kemampuan untuk membangkang dari perintah. Hal ini juga tidak terlepas dari kurangnya minat para pemuda di negara maju untuk menjadi tentara. Sehingga wajib militer pun harus dikeluarkan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah ketika seorang prajurit gugur di medan perang, kepada keluarga yang ditinggalkan.

Hal – hal seperti diatas lah yang mengakibatkan sebuah robot yang dapat berperang dan menggantikan peran tentara di medan perang sangat dibutuhkan.
Bila dilihat dari sisi ekonomis tentunya ini lebih murah dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk mentraining seorang manusia untuk dapat menjadi tentara yang baik.

Dari sisi delivery, robot tentara lebih unggul dari prajurit manusia. Robot tentara dapat diproduksi masal. Bisa jadi sebuah pabrik dapat menghasilkan puluhan ribu robot dalam sebulannya, dibandingkan harus mencari dan merekut pemuda yang berusia 18 – 25 tahun.

Banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh oleh sebuah negara jika mampu mengembangkan robot tentara ini. Tidak ada lagi prajurit yang harus dikobarkan, dan tidak ada lagi keluarga prajurit yang harus menangis karena sanak keluarganya tewas di medan pertempuran.

Amerika sebagai negara adikuasa tentunya sudah memikirkan masak – masak tentang robot – robot yang mampu berperang. Kehadiran pesawat tempur tanpa awak dalam perang teluk ke II sudah menunjukkan keseriusan militer Amerika dalam pengembangan embedded system, kecerdasaan buatan dan teknologi robot di bidang militer.

Seperti yang telah kita ketahui, internet mulanya adalah proyek Departement of Defense Amerika Serikat untuk membuat sebuah sistem komunikasi yang tidak akan mudah hancur karena serangan fisik. Teknologi wireless seperti handphone yang kini telah menjadi kebutuhan sehari – hari komunikasi di Indonesia, juga tidak terlepas dari kebutuhan militer yang berkeinginan agar setiap prajurit dapat berkomunikasi dengan pusat komando dengan mudah. Atau di Indonesia sendiri, penggunaan robot oleh tim Gegana dalam menjinakkan bom juga termasuk contoh implementasinya.

Israel sendiri sebagai negara yang memiliki hubungan tidak baik dengan para negara tetangganya juga dikabarkan telah mengembangkan tank – tank wireless yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Tentunya hal ini sangat luar biasa bila dilihat dari sisi teknologi embedded. Dapat saja terjadi di masa depan dimana setiap instrumen – instrumen militer dapat digerakkan dari jarak ribuan kilometer.

Jika tadi kehadiran robot – robot militer dilihat dari sudut pandang yang menguntungkan, tetap saja robot – robot militer tersebut tetap memiliki tujuan yang sama dengan tentara manusia yaitu sebagai alat yang digunakan untuk menghancurkan musuh. Tetap saja sasaran – sasaran yang dihancurkan sama, jika tidak perangkat militer, bangunan pasti manusia. Hal – hal inilah yang mungkin membuat beberapa peneliti / pengembang tidak setuju penggunaan robot dalam militer.

Robot – robot ataupun instrumen militer yang dibuat tentunya lebih efektif dibandingkan tentara manusia, mereka tidak ragu dalam menembakan peluru, rudal maupun misil ke arah orang dewasa maupun anak – anak. Tidak ada perasaan yang dilibatkan hanya perintah dan kode – kode instruksi yang dijalankan dalam bentuk bit – bit oleh mikroprosessor, 100% efektif.

Manusia pun juga sudah menyadari akan ketakutan tentang kehadiran robot – robot dalam militer. Hal ini dapat dilihat dari film Terminator yang diproduksi oleh Hollywood. Dimana robot – robot militer lepas kontrol

Penggunaan embedded system dan artificial intellegence memberikan kemudahan pada manusia di berbagai bidang. Implementasi dari embedded system dan artificial intellegence adalah teknologi robotika. Fungsi robot sangat membantu baik di bidang industri hingga medis. Robot juga memiliki kemampuan menggantikan manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berbahaya seperti peran astronot di stasiun antariksa.

Polemik penggunaan teknologi robot dalam bidang militer telah menjadi perdebatan para ahli. Baik itu keuntungan yang dapat diperoleh serta kerugian yang akan dirasakan. Setiap teknologi yang diciptakan manusia dapat menjadi pedang bermata dua yang tiba-tiba dapat menyerang siapapun termasuk tuannya sendiri. Hal ini telah diketahui semenjak dinamit hingga bom atom ditemukan.

Kisah Nelayan Pemburu Mayat

Rabu, 30 Mei 2012
Pekerjaan yang dilakukan seorang nelayan di China ini barangkali paling aneh di dunia. Wei Xinpeng, nama pria itu, biasa berburu mayat di Sungai Kuning. Wei, seperti diungkapkan oleh laman BBC, kerap memulai harinya dengan nongkrong sambil merokok di tepi sungai. Matanya mengamati air Sungai Kuning yang keruh. Dia yakin, sungai itu pasti selalu menyimpan mayat manusia, entah korban kecelakaan, dibunuh, atau pun bunuh diri.

Lelaki 55 tahun itu seperti hapal aliran sungai, dan dia jeli melihat ke mana arus membawa mayat-mayat yang tenggelam di sungai itu. Biasanya, Wei mendayung perahunya ke dekat satu jembatan kecil di hilir. Di sana, biasanya mayat “parkir” sebentar, karena tersangkut di celah besi jembatan. Dalam tujuh tahun terakhir, mencari mayat kini adalah kegiatan rutin Wei. Dia menjual temuannya itu ke kerabat mayat bersangkutan. “Saya memberi penghargaan kepada si mayat,” ujarnya seperti dilansir dari laman BBC, Senin 22 November 2010.


Wei mengaku telah mengumpulkan sebanyak 500 mayat dari dasar sungai. “Orang-orang ini mati dengan cara mengenaskan,” ujar Wei. Dia mengumpulkan mayat temuannya itu di satu teluk kecil yang tak tersentuh arus. Mayat-mayat beragam bentuk itu ditumpuk di sana. BBC melaporkan, di teluk kecil itu ada empat mayat yang tubuhnya telah kaku, dengan kepala tertelungkup ke bawah. Setiap kali berhasil menangguk mayat, Wei mengumumkannya di koran lokal. Dia menyebut ciri fisik mayat itu, sehingga kerabat yang bersangkutan dapat segera mengenalinya. Biasanya, kerabat si mayat akan menelepon Wei, dan meminta diantarkan ke tempat dia menyimpannya.

Wei membawa kerabat si mayat ke teluk kecil itu. Dia memasang sedikit tarif untuk jasa membalikkan tubuh si mayat agar wajahnya dapat terlihat. Jika kerabat mayat ingin membawanya pulang, maka mereka harus membayar uang tebusan sebesar lebih dari US$500, atau sekitar Rp. 4,4 juta. Wei mengatakan, selama ini dia telah menjual sekitar 40 mayat. Tapi terkadang, keluarga mayat enggan membayar, dan pulang tanpa membawa jenazah yang ditemukan Wei. “Satu kali orang tua mencari anaknya. Mereka melihat sebentar, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mereka tak membawanya pulang,” ujar Wei.

Jika sudah begini, Wei terpaksa harus menguburkan mayatnya secara pantas. Soalnya, pemerintah akan membiarkan mayat temuannya membusuk tanpa melakukan apapun. Wei mengatakan apa yang dia lakukan bukan semata-mata karena uang, tapi karena alasan lebih pribadi. Dia pun berkisah. Pekerjaan ini, kata Wei, bermula dari usahanya untuk mencari anaknya sendiri, yang tenggelam di Sungai Kuning. “Anak saya tenggelam di sungai ini dan saya tidak dapat menemukan mayatnya. Sangat menyakitkan. Itu sebabnya saya melakukan pekerjaan ini,” ujar Wei. Putra Wei sampai sekarang belum ditemukan. (BBC)